SEBELUM MEMBELI FRANCHISE CEK DULU BEBERAPA HAL INI

Akhir-akhir ini bisnis franchise menjadi salah satu konsep bisnis yang digandrungi. Tak heran jika konsep bisnis ini naik daun, serta membuat banyak pelaku bisnis yang mengembangkan bisnisnya melalui pengaplikasian sistem waralaba pada usahanya.

Tak cukup sampai di situ ada banyak juga masyarakat yang tertarik berinvestasi dalam bisnis franchise, karena banyak sekali keuntungan yang ditawarkan ketika mereka berinvestasi di bisnis waralaba ini.  Memang keuntungan yang didapat saat seorang pengusaha memfranchisekan usahanya sangatlah menggiurkan, tapi tak lantas semua pelaku bisnis bisnis bisa memfranchisekan usahanya.

Para pelaku bisnis harus memenuhi persyaratan untuk dapat memfranchisekan usahanya (bisa dilihat disini: Berikut Ini 5 Syarat Penting Untuk Memfranchisekan Usaha Anda).

Begitu pula dengan sang calon investor atau calon franchisee, bukan berarti mereka yang memiliki modal banyak bisa serta merta membeli franchise, mereka harus terlebih dahulu mencari tahu track record dari sang pemilik franchise atau yang biasa disebut franchisor.

Mencari tahu atau menginvestigasi sang franchisor sangat perlu dilakukan mengingat banyak sekali franchise yang ditawarkan belakangan ini. Karena sangat penting untuk mendapatkan informasi dalam jumlah dan akurasi yang memadai dari franchisor mengenai franchisenya.

Ada tiga keuntungan yang bisa didapatkan bila kita melakukan investigasi terlebih dahulu sebelum membeli sebuah franchise, yaitu :

1. Calon franchisee akan mendapatkan informasi yang lebih akurat sebagai bahan acuan dan keputusan bisnis.

2. Calon franchisee akan mengetahui sebanyak mungkin informasi sehingga ketika ada permasalahan bisa cepat dicari solusinya sekaligus mengantisipasi masalah yang akan timbul.

3. Secara psikologis informasi yang cukup membuat franchisee lebih tenang dan lebih percaya diri dalam menjalankan waralaba tersebut.

Agar kita bisa menikmati keuntungan dari berbisnis franchise sebaiknya investigasi yang dilakukan calon investor mencakup hal yang berkaitan dengan franchisor.  Yang perlu jadi perhatian adalah aspek-aspek seperti track record, kinerja keuangan, kinerja operasional sang franchisor dibanding dengan usaha yang sejenis. Support yang diberikan kepada franchise, pemilik , tim manajemen franchisor juga harus menjadi perhatian investigasi.

Ada beberapa tips atau langkah agar cakupan di atas terpenuhi.

a. Tentukan franchisor mana yang akan di investigasi.

b. Tentukan dengan jelas informasi mana yang akan Anda fokuskan untuk didapatkan.

c. Cari tahu mengenai pesaing sang franchisor dibidang usaha yang sejenis.

d. Cari tahu secara keseluruhan bidang yang digarap sang franchisor.

e. Buat daftar pertanyaan secara rinci mengenai franchisor.

f. Temui sang franchisor di tempat usahanya sekaligus Anda meninjau usaha franchisenya.

g. Amati bahasa tubuh franchisor jika memang ada info yang tidak benar sampaikan.

h. Jangan lupa meminta sang franchisor menyebutkan nama franchiseenya sebagai referensi.

Dengan demikian Anda akan lebih merasa terjamin ketika Anda telah mengetahui seluk-beluk sang franchisor.

Credit Picture : conservativeamericanvet.wordpress.com

SUMBER : http://portalpengusaha.com/franchise/sebelum-membeli-franchise-cek-dulu-beberapa-hal-ini

SUDAHKAH MEMBIDIK TARGET MARKET USIA 30-39 TAHUN

Disadari atau tidak, saat ini gadget dan internet sudah menjadi keseharian dan kebutuhan primer bagi sebagian besar masyarakat khususnya di kota-kota besar. Saat bangun pagi, barang apa yang pertama kali Anda cari? Kebanyakan orang pasti akan menjawab gadget mereka untuk sekedar mengecek e-mail, chat, atau mention yang mereka terima di social media

Masih belum yakin juga bahwa gadget dan internet telah menjadi kebutuhan primer? Bila saya berikan pilihan, Anda akan lebih memilih ketinggalan dompet atau gadget? Untuk Anda yang lebih memilih ketinggalan dompet, silakan langsung mention saya di @nikynathaniel.

Selain telah menjadi kebutuhan primer, penetrasi internet juga menjangkau seluruh lapisan umur, percaya atau tidak, beberapa hari yang lalu saya mendapat data terbaru 2014 dari redwing-asia.com bahwa penambahan jumlah pengguna internet di Indonesia yang paling besar bukan berada di range usia 18-25 tahun, melainkan pada range usia 30 – 39 tahun seperti digambarkan pada data berikut.


Dari data di atas dapat dilihat bahwa pertumbuhan pengguna internet di range usia 30 – 39 tahun mencapai jumlah 2x lipat dibanding range usia lainnya. Range usia 30 – 39 tahun ialah mereka yang telah memiliki daya beli yang tinggi dan karena social pressure dari lingkungan mereka yang saat ini telah banyak mengarah ke digital, maka mereka berusaha untuk mengejar ‘ketertinggalan’ dari range usia lainnya. 

Bila Anda jeli, hal ini merupakan opportunity yang besar bagi Anda yang memiliki usaha di dunia online di mana range usia tersebut merupakan pembeli yang potensial untuk membeli produk yang Anda tawarkan.

Hal ini juga diperkuat ketika Minggu lalu saya diberi kesempatan untuk sharing di komunitas JES (Jakarta Entrepreneur Solution) di Museum Mandiri, dari seluruh peserta yang hadir, 80% diantaranya ialah mereka yang berada di range usia 35-45 tahun yang mana saat ini mereka telah memiliki usaha offline namun masih semangat untuk meng-online-kan usaha mereka untuk menjangkau market yang lebih luas lagi. Salut untuk mereka semua.

Bila range usia tersebut merupakan target market untuk produk Anda, inilah saatnya untuk lebih memaksimalkan strategi online yang Anda lakukan untuk mendapatkan penjualan yang lebih besar lagi. Siapkah?

SUMBER : http://portalpengusaha.com/social-media/sudahkah-membidik-target-market-usia-30-39-tahun

Peluang Bisnis Waralaba 

Written By Purnawan Kristanto on Sabtu, 26 Januari 2013 | 19.55

Waralaba dapat menjadi solusi untuk percepatan ekspansi sebuah merek dan pada akhirnya memperbesar pundi-pundi pemilik merek. Itu adalah salah satu keuntungan bisnis waralaba yang disampaikan oleh Utomo Nyoto, seorang konsultan waralaba, pada seminar “Meraih Peluang Bisnis Waralaba” di GKI Dipo, Surabaya.

“Lihatlah apotik K-24 yang merembet dengan cepat ke pelosok-pelosok daerah. Seandainya tidak diwaralabakan maka K-24 tidak memiliki cukup modal untuk membuka gerai sebanyak seperti sekarang ini,” lanjut Utomo yang juga menjadi konsultan bagi  K-24, de boliva, boncafe, dan rodalink ini.

Di dalam bisnis terdapat dua pemain pokok, yaitu franchisor (penjual waralaba) dan franchisee (pembeli waralaba). Keduanya sama-sama pelaku bisnis mandiri, namun karena franchisor telah memiliki pengalaman yang lebih dahulu, maka dia menawarkan kelebihannya itu kepada franchisee. Tidak menutup kemungkina, seiring dengan waktu, pengalaman keduanya akan sebanding.

Bagi calon pembeli waralaba, Utomo Nyoto memberikan tips-tips sederhana agar dapat mengendalikan resiko investasi. Utomo menyarankan agar calon pembeli memilih merek yang terkenal karena sudah memiliki potensi pasar yang potensial. Selanjutnya calon pembeli perlu menelisik apakah penjual waralaba itu memiliki produk berkualitas yang dipercaya oleh konsumen atau tidak. “Di samping itu yang tidak kalah pentingnya adalah adanya standarisasi produk,” papar Nyoto Utomo. Dia memberikan ilustrasi berupa produk waralaba Mc Donals, yang memiliki rasa dan standar pelayanan sama di tiap gerainya karena sudah memiliki standar baku.

Lantas apakah bisnis waralaba bisa merugi? “Tentu saja bisa,” tegas Utomo Nyoto. Sebagaimana bisnis lain, waralaba pun berpotensi mendalami kerugian. Selain itu masih ada risiko lain yang perlu diwaspadai yaitu penipuan berkedok waralaba. Itu sebabnya, calon pembeli perlu banyak bertanya untuk mendapatkan penjelasan sedetail mungkin dari pemilik waralaba.

Utomo Nyoto juga menjelaskan bahwa bisnis penjual waralaba tidaklah harus selalu bermodal besar. Dengan modal yang kecil dan usaha yang sama, beberapa pengusaha dapat mendirikan sebuah merek yang kemudian dijual sebagai usaha waralaba. Laundry Zone adalah satu contohnya. Pada mulanya adalah beberapa individu yang bergerak dalam usaha jasa cuci kiloan dengan merek sendiri-sendiri. Mereka lalu bergabung untuk mendirikan merek baru yakni Laundry Zone, yang selanjutnya dijual sebagai bisnis waralaba.

Selain penjual dan pembeli, masih ada peluang bisnis di bidang waralaba yaitu sebagai pemasok. Contohnya adalah salah seorang jemaat di gki Diponegoro yang menjadi pemasok  pada waralaba hoka-hoka bento. Dengan menjadi supplier pada produk waralaba, tentunya pendapatan akan berlipat ganda karena semua gerai diharuskan mengambil dari supplier yang telah direkomendasikan oleh pihak franchisor. (Tri Hajar)

SUMBER : http://www.gki-magz.com/2013/01/peluang-bisnis-waralaba.html

Bisnis Laundry Kiloan Semakin Berkibar

Tawaran waralaba atau kemitraan usaha laundry tetap marak. Maklum, peminat jasa binatu semakin banyak. Alhasil, jaringan waralaba dan dan kemitraan laundry semakin meluas saja. Ambil satu contoh, Simply Fresh Laundry. Tahun 2008 lalu jumlah gerainya baru 27 gerai, dan kini sudah berbiak lebih dari lima kali lipat menjadi 142 gerai, yang tersebar di 50 kota di Indonesia

Ketua Umum Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Itta Supit Ginting menilai, bisnis laundry kian marak karena gaya hidup masyarakat yang ingin serba praktis. "Bahkan, saat ini, bisnis laundry tidak hanya semarak di kota-kota besar saja," katanya. Masyarakat di daerah-daerah pun memiliki kebutuhan akan jasa binatu pakaian ini. Itta menilai, prospek bisnis laundry untuk segmen menengah atas dan bawah akan cerah. Apa lagi laundry dengan sistem kiloan.

Pemicu menjamurnya bisnis laundry kiloan adalah tarif yang terjangkau pelanggan. Meski menyasar pasar kelas menengah-bawah, pendapatan yang dipetik pemain dari sistem ini cukup bagus. Contohnya, Agung Nugroho. Dalam sebulan, pemilik Simply Fresh Laundry ini bisa mengantongi omzet Rp 25 juta hingga Rp 30 juta dari 15 gerai laundry yang dikelolanya. "Marginnya 50%," imbuh dia

Penghasilan sebesar itubaru dari gerai yang dikelola sendiri oleh Agung, belum termasuk pendapatan dari kemitraan yang dia tawarkan. Jimmy Hendrawan, pemilik kemitraan Laundry Zone, juga menikmati gurihnya bisnis laundry kiloan. Kini Laundry Zone memiliki 35 gerai. Sebanyak 10 gerai dikelola sendiri. Dengan tarif Rp 8.000-Rp 10.000 per kilogram (kg), Laundry Zone menerima order 100 kg per hari. Meski prospek bisnis inicerah, tapi persaingan akan meningkat seiring bertambahnya pemain. Agar mampu bersaing, kuncinya adalah meningkatkan pelayanan dan kualitas jasa laundry. 

SUMBER : http://ukmindonesiasukses.blogspot.com/2010/06/bisnis-laundry-kiloan-semakin-berkibar.html

Bisnis Laundry Zone Cukup Bermodal Rp 100 Juta

Rabu, 12 Januari 2011 22:11 WIB
FOTO TRIBUNJOGJA/MARIO EKA DANARDONO
Bisnis waralaba Laundry Zone ditawarkan Rp 100 juta, dengan prediksi balik modal selama dua tahun.
Laporan: Mario Eka Danardono
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Jimmy Hendrawan menawarkan bisnis waralaba Laundry Zone Rp 100 juta, dengan prediksi balik modal dua tahun.“Ada juga lokasi yang hanya butuh 10 bulan untuk balik modal," kata pemilik merek Laundy Zone itu, Rabu (12/1/2011).Ia mengatakan sudah menekuni bisnis franchise Laundry Zone sejak tahun 2007. Merek Laundry Zone adalah hasil merger dari tiga laundry yang bersifat individu."Atas saran Utomo Nyoto (seorang kopnsultan franchise), saya dan dua teman saya bergabung membangun merek bersama-sama," ujar Jimmy.Laundry Zone kini memiliki 42 gerai di empat pulau besar Indonesia, dan sebanyak 20 gerai ada di Yogyakarta.Setiap gerai mampu melayani 150 kilogram cucian per hari. Dan biaya jasanya Rp 3.500 per kilogram. “Tahun 2010 ini kita berhasil membuka 14 gerai Laundy Zone,” katanya.Menurut Jimmy, selama gaya hidup sibuk masyarakat tidak berubah, maka bisnis laundry akan tetap berjalan. Ia yakin kalau keluarga yang sibuk tidak mungkin menghabiskan libur mingguannya hanya untuk mencuci pakaian. "Laundry Zone tidak pernah ada yang rugi. Tapi kalau soal laba relatif," tambah Jimmy.

SUMBER : http://jogja.tribunnews.com/2011/01/12/bisnis-laundry-zone-cukup-bermodal-rp-100-juta/

 

Apapun bisnis Anda, selama memiliki neraca keuangan positif dan proses yang bisa distandarkan, bisa di-franchise-kan. Bahkan, untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sekalipun.

Sebuah bisnis, baru bisa di-franchise-kan jika benar-benar telah teruji, memiliki brand image dan reputasi yang kuat. Idealnya, setelah 5 tahun baru bisa dikatakan siap di-franchise, meskipun pada beberapa kasus hanya butuh 3,5 sampai 4 tahun. Setelah fundamental dan brand kita teruji, maka bisnis kita bisa diwaralabakan.

Satu hal yang harus diingat adalah, waralaba bukanlah bisnis yang hanya sekadar mencari keuntungan dengan melakukan ekspansi di berbagai tempat. Waralaba adalah berbagi sukses, team work, dan berbagi pengalaman antarpengelola. Baik franchisor maupun franchisee harus memiliki kesamaan visi, karena mereka adalah satu bangunan.

Laundry Zone adalah salah satu contoh UMKM yang telah berhasil mem-franchise-kan diri. Perusahaan ini bergerak di bidang bisnis laundry kiloan. Sebelumnya,  Laundry Zone merupakan gabungan dari tiga bisnis serupa, yaitu OneDay Laundry, NeoGrand Laundry, dan Fresh Laundry. Di saat merger pada 17 Desember 2007, Laundry Zone hanya memiliki 9 outlet yang tersebar di Yogyakarta dan Solo. Tetapi, pada 2012, cakar bisnis waralaba ini makin tajam dengan membuka 50 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia.

Di awal perkembangannya, Laundry Zone tidak mendanai bisnis ini sendirian. Ada beberapa investor yang membantu mengembangkan Mengutip pernyatan Utomo Njoto (Senior Franchise Consultant FT Consulting) di majalah Franchise, bahwa Laundry Zone berawal dari lima merek UMKM yang terjaring Dinas Perdagangan Yogyakarta untuk pembinaan waralaba. Tetapi setelah beberapa kali berdiskusi, dua merek lainnya mengundurkan diri.

“Kebetulan saya yang membina dan mengarahkan, serta mereka cukup kooperatif dan siap diwaralabakan. Saya mengusulkan merger merek, bukan merger seluruh unit gerainya. Itu sebabnya di Laundry Zone dikenal istilah shareholder’s owned, bukan franchisor company owned,” jelasnya.(wh)

SUMBER : http://enciety.com/news-item/mem-franchise-kan-umkm/#

CUSTOMER EXPECTATION: MARI KENALI LEBIH DINI

 30 September, 2013

Pernahkah sebagai pelaku usaha, baik dalam penjualan produk maupun jasa, Anda menerima komplaindari pelanggan? Pernahkah tiba-tiba Anda harus kehilangan pelanggan? Atau pada suatu waktu Anda menerima apresiasi yang unbelievable dari pelanggan? Atau mungkin apresiasi untuk perusahaan Anda? Pernahkah pula hasil kerja rutin yang Anda anggap biasa itu, ternyata memberikan dampak luar biasa? Pelanggan Anda tumbuh dan tumbuh makin baik, dan itu disampaikannya berkat partnership yang dijalin selama ini.

Tentu, perusahaan akan memberikan yang terbaik buat pelanggannya. Membangun proses makin efisien, dan mampu memberikan kepuasan pada pelanggannya. Saat sebuah standart service quality dilakukandengan dukungan optimal dari semua bagian, namun masih ada pelanggan merasa tidak menerima kualitas layanan yang sama. Mengapa ini terjadi? Ya, salah satu faktor yang bisa kita kenali adalah perbedaan persepsi pelanggan tentang expectation. Ada perbedaan tentang harapan pelanggan.

Customer expectation hadir pada benak pelanggansebelum pelanggan datang atau memutuskan membeli produk atau menggunakan jasa kita. Ada knowledge yang dimiliki pelanggan. Ada kemampuan membandingkan dengan experience yang dimiliki, sehingga pelanggan mampu memutuskan kualitas produk dan layanan kita. Meski kita cukup sadar, pada produk tertentu khususnya information technology,kekuatan inovasi produk jauh lebih utama dalam mendorong kepuasan pelanggan. Namun, pada dasarnya kemampuan kita men-deliver produk dan layanan dengan kualitas prima akan sangat menentukan tingkat kepuasan pelanggan.

Dalam model Perceived Service Quality (PSQ) yang dikembangkan Dr. Christian Grönroos dalam sebuah jurnalnya, menyebutkan kualitas ekspektasi pelanggan banyak didorong market communication, image, word-of-mouth dan customer needs. Tentu, kita juga pahami, tidak semua keputusan pembelian melalui olah rasional. Tidak jarang faktor emosional lebih berperan.

Saat kita datang ke sebuah layanan, secara cepat otak kita membangun sebuah “kesimpulan” dari sekian data dan informasi yang terkumpul melalui indera kita. Subhanallah, otak melakukan pekerjaan statistik yang luar biasa cepat. Mengumpulkan, melakukan pengelompokkan, membandingkan, mengolahnya dan membangun kesimpulan. Sehingga hadirlah kata-kata terucap baik dalam lisan maupun batin, seperti halnya “masakan ini lebih enak rasanya”, “ruangannya lebih nyaman”, “harganya agak mahal, tapi pelayannya lebih ramah”, “Aduh, paket yang disediakan tidak beragam”,”produknya kok ketinggalan jaman ya”, dan masih banya sederet atau berlembar-lembar pernyataan positif maupun negatif tentang customer satisfaction.

Bagaimana pelanggan dengan mudah dapat menilai, memberikan skala kepuasan. Bahkan pelanggan baru pun tetap akan bisa memberikan pendapatnya. Ya, pelanggan kita menyimpan database expectation dari pengalaman yang ada. Sehingga, saat kita menjumpai customer kita komplaindengan keras, tentu kondisi ini tak kita harapkan, meskikita sudah melayani dan memberikan produk yang terbaik, kita harus tetap menerimanya dengan baik. Ternyata masih ada GAP atau dalam model Parasuraman (SERVQUAL) dikenal bahwa gap kualitas layanan adalah seberapa besar perbedaan antara persepsi kualitas layanan dan ekspektasi pelanggan.

Konsep-konsep lama, sebagai dasar dalam customer satisfaction ini, sengaja kita coba buka kembali karena seringkali kita abai pada hal-hal yang bersifat mendasar. Khususnya pada pemahaman tentang customer expectation. Dalam salah satu halaman bukunya UP! Your Service New Insights yang ditulis Ron Kaufman, bercerita tentang bagaimana kita harus mengenali level harapan pelanggan kita. Saat perusahaan kita menjadi yang terbaik, maka kita musti paham kadang expectation pelanggan pada perusahaan kita sebesar 120%. Maka, memberikan layanan pada level 100% tentu masih ada gap. Ada ketidakpuasan yang hadir. Kita tentu musti bijak menyikapinya.

Yang lebih penting, kenali sedini mungkin seberapa besar harapan pelanggan kita, di manapun sektor layanan kita, partai, pemerintah, industri, retail, riset, ICT, otomotif, dan sebagainya. Inovasi selalu model research kita, gali customer expectation dengan lebih dalam. Pelanggan yang memiliki pengalaman sekolah dan tinggal di luar negeri atau pelanggan yang sering berganti atau suka mencoba beragam produk dan layanan tentu memiliki ekspektasi yang berbeda. Makin kita kenal data pelanggan, maka business kita makin asyik, dan kita makin hormat pada pelanggan kita.  Pelanggan adalah guru marketing kita yang paling baik.

SUMBER : http://enciety.com/news-item/customer-expectation-mari-kenali-lebih-dini/

 

Utomo Njoto Senior Franchise Consultant dari FT Consulting

Kecepatan Ekspansi

Jumat, 12 April 2013 15:13

Beberapa waktu lalu seorang pebisnis mengutarakan niatnya untuk melakukan ekspansi bisnis melalui waralaba. Mengapa waralaba? Karena ia melihat bahwa waralaba menunjukkan kecepatan ekspansi yang sangat cepat. Indomaret dan Alfamart sudah ribuan gerainya. Apotek K-24 dari 5 gerai di awal tahun 2005 kini sudah mencapai 300 gerai dalam waktu 7 tahun.

Penentu Kecepatan Eskpansi

Selain respon atau minat calon investor dan ketersediaan dana untuk membuka gerai milik sendiri, kecepatan ekspansi ditentukan oleh beberapa hal terkait dengan kebutuhan operasional dan persiapan gerai.

Ketersediaan SDM berkualitas

Salah satu penentu kecepatan ekspansi bisnis waralaba adalah ketersediaan SDM yang berkualitas. Bisnis salon misalnya, sangat bergantung pada ketersediaan stylist yang berkualitas dan bisa tunduk pada aturan main salon yang bersangkutan. Konon hair stylist adalah salah satu kelompok yang “sulit diatur”.

Ekspansi kursus bahasa Inggris atau bahasa Mandarin ditentukan oleh ketersediaan guru yang berkualitas. Ekspansi Apotek terkendala oleh ketersediaan Apotek dan Asisten Apoteker. Bahkan ekspansi bisnis yang relatif umum seperti laundry kiloan, retail, dan gerobak-chise (BO dalam bentuk gerobak) sering terkendala oleh ketersediaan SDM.

TIPS: Bila anda hendak melakukan ekspansi dengan kecepatan tinggi, miliki program perekrutan berkala, atau berkelanjutan.

Jangka Waktu Pelatihan

Seandainya sudah memperoleh SDM yang memenuhi persyaratan, faktor penentu berikutnya adalah jangka waktu pelatihan. Masing-masing pewaralaba memiliki program pelatihan yang berbeda-beda.

Ada restoran yang menetapkan pelatihan termasuk magang selama 1 bulan, restoran yang lain lagi hanya 14 hari. Sementara itu mom n jo yang bergerak di bisnis spa ibu hamil, bayi dan anak-anak memiliki program pelatihan terapis hingga 3 bulan.

Jangka waktu pelatihan yang lebih panjang memiliki konsekuensi kecepatan ekspansinya menjadi lebih rendah dibanding yang program pelatihannya relatif singkat. Meski demikian, bila hal ini terkait dengan komitmen pada kualitas, maka sangat tidak disarankan melakukan pemangkasan waktu program pelatihan.

TIPS: Bila anda hendak melakukan ekspansi dengan kecepatan tinggi, bisa dipertimbangkan untuk membuat semacam pusat pendidikan dan pelatihan. Bila McD memiliki Hamburger University, Apotek K-24 memiliki K-24 Academy.

Pembangunan Fisik Gerai

Faktor lain lagi yang menentukan kecepatan ekspansi pewaralaba adalah jangka waktu ayng dibutuhkan untuk mempersiapkan pembangunan fisik gerainya. Sekali lagi, hal ini berbeda antara satu pewaralaba dengan pewaralaba lainnya. Ada yang butuh 2 bulan, ada yang 3 bulan, adapula yang hanya hitungan minggu.

TIPS: Temukan mitra yang tepat untuk pekerjaan pembangunan fisik gerai, mitra yang tepat waktu dengan kualitas yang baik, dengan biaya yang sesuai anggaran.

Perijinan

Bagi para pebisnis di Indonesia, persoalan proses perijinan yang memakan waktu panjang juga bisa jadi kendala kecepatan ekspansi pula. Bahkan beberapa perijinan kadang menghadapi kendala upaya menghambat dari kelompok tertentu.

Suatu gerai bisnis terwaralaba bahkan ada yang memerlukan waktu lebih dari 1 tahun untuk pengurusan perijinannya. Untung terwaralaba ini menggunakan gedung ruko milik sendiri, bukan mengontrak ruko atau gedung milik orang lain. Sulit dipercaya hal ini terjadi, tapi demikianlah kenyataannya. Untung pula tidak di semua lokasi mengalami kasus seperti itu. Secara umum prosesnya “hanya” 2-3 bulan.

TIPS: Bila kita menghadapi kesulitan perijinan di lokasi tertentu, sambil tetap mem-proses perijinan yang sulit itu, alihkan fokus ekspansi ke wilayah lain yang lebih mudah proses perijinannya.

Ketersediaan produk dan bahan baku

Dari sisi operasional rutin, yang perlu dipertimbangkan adalah kapasitas dan kesinambungan pasokan produk serta bahan baku. Beberapa waktu lalu saya mendengar kabar kurang sedap mengenai satu merek jaringan toko yang menyediakan susu dan keperluan makanan bayi. Para mitra investor tidak memperoleh pasokan yang dibutuhkan sehingga harus bergerilya mencari pasokan sendiri. Hal ini terjadi karena tidak diperhitungkannya kapasitas atau kemampuan menyediakan produk dan bahan baku bisnis yang diwaralabakan.

Satu kejadian lagi adalah bisnis yang menggunakan bahan baku ikan laut. Beberapa pebisnis mengakui ada bulan-bulan tertentu pasokan ikan sulit diperoleh. Dalam kasus ini masih bnisa ditemukan pemasok di bulan-bulan sulit tersebut, namun harganya lebih tinggi karena adanya investasi chiller room raksasa.

TIPS: Hitung baik-baik kapasitas dan kesinambungan supply produk dan bahan baku bisnis anda. Sesuaikan kecepatan ekspansi anda dengan ketersediaan dan kesinambungan pasokan ini. Temukan pula para pemasok baru untuk meningkatkan kapasitas supply anda.

Semoga tulisan di atas memberi pencerahan dan tips yang praktis dalam mengelola ekspansi jaringan waralaba anda. Sukses selalu !

Utomo Njoto

Senior Franchise Consultant dari FT Consultin

Website: www.consultft.com

 Email : Tomsolid@indosat.net.id

 FT Consulting (Indonesia) adalah konsultan pengembangan sistem waralaba dan kemitraan dari Apotek K-24, ILP, Odiva, Disc Tarra, Healthy Choice, Laundry Zone, De Boliva, mom n jo maternity spa, Pet Depo, bubble n me, Rumah Warna, TCWA (wawawa)

SUMBER : http://www.majalahfranchise.com/v2/opini/529-kecepatan-ekspansi.html

Big Brands in Big Trouble
Kamis, 12 November 2009
Oleh : Utomo Njoto

Menyimak kedigdayaan merek-merek besar seperti Coca-Cola dan McDonald’s, kita nyaris tidak menyadari bahwa merek-merek besar ini pernah mengalami masa-masa kritis yang tidak mudah.

Larry Light, konsultan dan mantan Chief Marketing Officer McDonald’s, menyingkap fakta bahwa ketika ia bergabung dengan McDonald’s pada September 2002, harga saham perusahaan ini anjlok dari nilai tertinggi US$ 45,31 pada Maret 1999 menjadi US$ 17,66. Harga saham ini terus merosot hingga sekitar US$ 13 pada Maret 2003.

McDonald’s saat itu (terutama pada 2001-02) seperti burung unta yang menyembunyikan wajahnya ke lubang dalam tanah. Evaluasi berkala menunjukkan adanya penurunan kinerja dan kualitas brand experience. Bukannya berupaya memperbaiki kinerja dan terus mengukurnya, yang mereka lakukan justru meniadakan evaluasi tersebut. Konon alasannya adalah agar keseluruhan sistem tidak mengalami demoralisasi.

Penurunan penjualan di masing-masing gerai disiasati dengan memperbanyak gerai dan mempercepat pembukaannya. Bahkan, dalam satu periode disebutkan bahwa proyeksi pertumbuhan McDonald’s nyaris ekuivalen dengan pembukaan satu gerai setiap empat jam!

Light dengan gamblang menyebutkan bahwa saat itu tidak ada upaya serius untuk memperbaiki buruknya pengelolaan merek yang sudah besar ini, dan strategi waralaba yang digunakan sangat mengabaikan strategi branding yang baik. Fokus mereka pada promosi, iklan, dan menciptakan traffic atau kerumunan pelanggan melalui harga murah tetapi mengorbankan faktor kualitas produk. Akibatnya, kinerja setiap gerai mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Branding bukan sekadar kegiatan periklanan ataupun pemasaran. Branding merupakan strategi bisnis secara keseluruhan.

Make the Brand Better, not Just Bigger. Gejala McDonald’s ini merupakan “perangkap” yang senantiasa mengintai setiap bisnis waralaba. Banyak merek waralaba yang dibangun menjadi besar melalui pertumbuhan jumlah gerai, tetapi gagal menjaga kualitas produk dan pelayanannya. Light menyebut perangkap ini, “Making the brand bigger, but not making the brand better.”

Kebenaran ungkapan Light jelas terlihat dalam industri waralaba di Indonesia. Beberapa merek sempat menjadi besar karena pertumbuhan jumlah gerai yang luar biasa, tetapi karena kurang didukung oleh pengelolaan merek dan bisnis dengan baik, ketenaran merek-merek ini mulai surut. Beberapa di antaranya karena strategi komunikasi pemasaran yang kurang tepat seperti Ayam Bakar Wong Solo. Ada pula yang karena kurangnya komitmen sang pendiri waralaba sehingga institusi pewaralabanya dijual ke pihak lain seperti Salon Lutuye. 

Pengalaman masa krisis McDonald’s perlu mendapat perhatian merek-merek waralaba lokal yang sudah dan sedang dalam perjalanan menjadi besar di Indonesia, seperti Es Teler 77, Indomaret, Alfamart, Johnny Andrean, International Language Programs (ILP), Primagama, LP3I, Apotek K-24, Odiva, AutoBridal, Kebab Turki Baba Rafi, Veneta System, Multiplus, Cak Eko, Edward Forrer, Furnimart, TX Travel, Laundry Zone, Simply Fresh dan Melia Laundry. Harus diakui, beberapa di antara merek-merek tersebut sedang menghadapi masalah yang serupa dengan McDonald’s: menurunnya kualitas customer experience.

Pengalaman Pelanggan. Kualitas pengalaman pelanggan terhadap suatu merek atau brand experience merupakan hal yang paling hakiki dalam konteks branding. Kebenaran yang paling mendasar mengenai merek adalah bahwa “merek itu milik pelanggan, bukan brand manager”. Demikian ungkap Niall FitzGerald, mantan CEO Unilever.

Salah satu persoalan utama yang dihadapi McDonald’s adalah pengelolaan SDM. Pembukaan gerai yang terlalu cepat mengakibatkan kurangnya kualitas pelatihan dan persiapan pembukaan gerai. Hal ini berujung pada pelayanan yang makin buruk, seperti seringnya terjadi kesalahan dalam melayani pesanan pelanggan, hingga adanya beberapa gerai dengan fasilitas toilet yang sangat kotor. Akibatnya, kepiawaian McDonald’s dalam menciptakan iklan dan promosi yang menarik tidak berlanjut dengan pengalaman pelanggan yang positif.

Upaya perbaikan McDonald’s membutuhkan komitmen yang tinggi. Jim Cantalupo, CEO McDonald’s saat itu, mengubah strategi dengan memangkas rencana pembukaan 1.300 gerai baru di tahun 2003 menjadi hanya 600 gerai baru. “Pertumbuhan akan dicapai melalui perbaikan kinerja di setiap gerai,” demikian komitmen sang CEO.

Perubahan paradigma yang signifikan di McDonald’s adalah “berubah dari menjual apa yang tersedia pada kami, menjadi menyediakan pengalaman merek (brand experience) yang diharapkan para pelanggan.” Hasilnya, harga saham McDonald’s melejit dari sekitar US$ 13 pada 2003 menjadi sekitar US$ 32 di akhir 2005.
Merek yang Menua. Selain karena kegagalan menjaga dan meningkatkan pengalaman pelanggan, masalah yang dihadapi merek besar bisa juga dikarenakan siklus hidup merek yang bersangkutan memang memasuki masa penurunan (penuaan) sehingga perlu dilakukan langkah-langkah meremajakan kembali merek tersebut.

Dalam waralaba, penurunan penjualan dan laba terutama harus diantisipasi ketika jumlah gerai yang dibuka mulai mencapai titik jenuh, atau ketika ada gerakan pesaing yang sangat kuat dan berbahaya. Upaya untuk memberikan pengalaman baru, menciptakan target pasar baru, dan menciptakan produk baru sangat dibutuhkan. Strategi yang hanya mengandalkan kegiatan promosi dan banting harga sangat berbahaya dan kontraproduktif dalam situasi seperti ini.
Merek besar Anda sedang mengalami masalah besar? Fokus pada pelanggan merupakan kata kunci yang harus mendapat perhatian. Keberadaan suatu merek ditentukan pelanggan, bukan brand manager …

*) Konsultan waralaba senior dari FT Consulting.
URL : http://202.59.162.82/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=10022