SEBELUM MEMBELI FRANCHISE CEK DULU BEBERAPA HAL INI

Akhir-akhir ini bisnis franchise menjadi salah satu konsep bisnis yang digandrungi. Tak heran jika konsep bisnis ini naik daun, serta membuat banyak pelaku bisnis yang mengembangkan bisnisnya melalui pengaplikasian sistem waralaba pada usahanya.

Tak cukup sampai di situ ada banyak juga masyarakat yang tertarik berinvestasi dalam bisnis franchise, karena banyak sekali keuntungan yang ditawarkan ketika mereka berinvestasi di bisnis waralaba ini.  Memang keuntungan yang didapat saat seorang pengusaha memfranchisekan usahanya sangatlah menggiurkan, tapi tak lantas semua pelaku bisnis bisnis bisa memfranchisekan usahanya.

Para pelaku bisnis harus memenuhi persyaratan untuk dapat memfranchisekan usahanya (bisa dilihat disini: Berikut Ini 5 Syarat Penting Untuk Memfranchisekan Usaha Anda).

Begitu pula dengan sang calon investor atau calon franchisee, bukan berarti mereka yang memiliki modal banyak bisa serta merta membeli franchise, mereka harus terlebih dahulu mencari tahu track record dari sang pemilik franchise atau yang biasa disebut franchisor.

Mencari tahu atau menginvestigasi sang franchisor sangat perlu dilakukan mengingat banyak sekali franchise yang ditawarkan belakangan ini. Karena sangat penting untuk mendapatkan informasi dalam jumlah dan akurasi yang memadai dari franchisor mengenai franchisenya.

Ada tiga keuntungan yang bisa didapatkan bila kita melakukan investigasi terlebih dahulu sebelum membeli sebuah franchise, yaitu :

1. Calon franchisee akan mendapatkan informasi yang lebih akurat sebagai bahan acuan dan keputusan bisnis.

2. Calon franchisee akan mengetahui sebanyak mungkin informasi sehingga ketika ada permasalahan bisa cepat dicari solusinya sekaligus mengantisipasi masalah yang akan timbul.

3. Secara psikologis informasi yang cukup membuat franchisee lebih tenang dan lebih percaya diri dalam menjalankan waralaba tersebut.

Agar kita bisa menikmati keuntungan dari berbisnis franchise sebaiknya investigasi yang dilakukan calon investor mencakup hal yang berkaitan dengan franchisor.  Yang perlu jadi perhatian adalah aspek-aspek seperti track record, kinerja keuangan, kinerja operasional sang franchisor dibanding dengan usaha yang sejenis. Support yang diberikan kepada franchise, pemilik , tim manajemen franchisor juga harus menjadi perhatian investigasi.

Ada beberapa tips atau langkah agar cakupan di atas terpenuhi.

a. Tentukan franchisor mana yang akan di investigasi.

b. Tentukan dengan jelas informasi mana yang akan Anda fokuskan untuk didapatkan.

c. Cari tahu mengenai pesaing sang franchisor dibidang usaha yang sejenis.

d. Cari tahu secara keseluruhan bidang yang digarap sang franchisor.

e. Buat daftar pertanyaan secara rinci mengenai franchisor.

f. Temui sang franchisor di tempat usahanya sekaligus Anda meninjau usaha franchisenya.

g. Amati bahasa tubuh franchisor jika memang ada info yang tidak benar sampaikan.

h. Jangan lupa meminta sang franchisor menyebutkan nama franchiseenya sebagai referensi.

Dengan demikian Anda akan lebih merasa terjamin ketika Anda telah mengetahui seluk-beluk sang franchisor.

Credit Picture : conservativeamericanvet.wordpress.com

SUMBER : http://portalpengusaha.com/franchise/sebelum-membeli-franchise-cek-dulu-beberapa-hal-ini

SUDAHKAH MEMBIDIK TARGET MARKET USIA 30-39 TAHUN

Disadari atau tidak, saat ini gadget dan internet sudah menjadi keseharian dan kebutuhan primer bagi sebagian besar masyarakat khususnya di kota-kota besar. Saat bangun pagi, barang apa yang pertama kali Anda cari? Kebanyakan orang pasti akan menjawab gadget mereka untuk sekedar mengecek e-mail, chat, atau mention yang mereka terima di social media

Masih belum yakin juga bahwa gadget dan internet telah menjadi kebutuhan primer? Bila saya berikan pilihan, Anda akan lebih memilih ketinggalan dompet atau gadget? Untuk Anda yang lebih memilih ketinggalan dompet, silakan langsung mention saya di @nikynathaniel.

Selain telah menjadi kebutuhan primer, penetrasi internet juga menjangkau seluruh lapisan umur, percaya atau tidak, beberapa hari yang lalu saya mendapat data terbaru 2014 dari redwing-asia.com bahwa penambahan jumlah pengguna internet di Indonesia yang paling besar bukan berada di range usia 18-25 tahun, melainkan pada range usia 30 – 39 tahun seperti digambarkan pada data berikut.


Dari data di atas dapat dilihat bahwa pertumbuhan pengguna internet di range usia 30 – 39 tahun mencapai jumlah 2x lipat dibanding range usia lainnya. Range usia 30 – 39 tahun ialah mereka yang telah memiliki daya beli yang tinggi dan karena social pressure dari lingkungan mereka yang saat ini telah banyak mengarah ke digital, maka mereka berusaha untuk mengejar ‘ketertinggalan’ dari range usia lainnya. 

Bila Anda jeli, hal ini merupakan opportunity yang besar bagi Anda yang memiliki usaha di dunia online di mana range usia tersebut merupakan pembeli yang potensial untuk membeli produk yang Anda tawarkan.

Hal ini juga diperkuat ketika Minggu lalu saya diberi kesempatan untuk sharing di komunitas JES (Jakarta Entrepreneur Solution) di Museum Mandiri, dari seluruh peserta yang hadir, 80% diantaranya ialah mereka yang berada di range usia 35-45 tahun yang mana saat ini mereka telah memiliki usaha offline namun masih semangat untuk meng-online-kan usaha mereka untuk menjangkau market yang lebih luas lagi. Salut untuk mereka semua.

Bila range usia tersebut merupakan target market untuk produk Anda, inilah saatnya untuk lebih memaksimalkan strategi online yang Anda lakukan untuk mendapatkan penjualan yang lebih besar lagi. Siapkah?

SUMBER : http://portalpengusaha.com/social-media/sudahkah-membidik-target-market-usia-30-39-tahun

Peluang Bisnis Waralaba 

Written By Purnawan Kristanto on Sabtu, 26 Januari 2013 | 19.55

Waralaba dapat menjadi solusi untuk percepatan ekspansi sebuah merek dan pada akhirnya memperbesar pundi-pundi pemilik merek. Itu adalah salah satu keuntungan bisnis waralaba yang disampaikan oleh Utomo Nyoto, seorang konsultan waralaba, pada seminar “Meraih Peluang Bisnis Waralaba” di GKI Dipo, Surabaya.

“Lihatlah apotik K-24 yang merembet dengan cepat ke pelosok-pelosok daerah. Seandainya tidak diwaralabakan maka K-24 tidak memiliki cukup modal untuk membuka gerai sebanyak seperti sekarang ini,” lanjut Utomo yang juga menjadi konsultan bagi  K-24, de boliva, boncafe, dan rodalink ini.

Di dalam bisnis terdapat dua pemain pokok, yaitu franchisor (penjual waralaba) dan franchisee (pembeli waralaba). Keduanya sama-sama pelaku bisnis mandiri, namun karena franchisor telah memiliki pengalaman yang lebih dahulu, maka dia menawarkan kelebihannya itu kepada franchisee. Tidak menutup kemungkina, seiring dengan waktu, pengalaman keduanya akan sebanding.

Bagi calon pembeli waralaba, Utomo Nyoto memberikan tips-tips sederhana agar dapat mengendalikan resiko investasi. Utomo menyarankan agar calon pembeli memilih merek yang terkenal karena sudah memiliki potensi pasar yang potensial. Selanjutnya calon pembeli perlu menelisik apakah penjual waralaba itu memiliki produk berkualitas yang dipercaya oleh konsumen atau tidak. “Di samping itu yang tidak kalah pentingnya adalah adanya standarisasi produk,” papar Nyoto Utomo. Dia memberikan ilustrasi berupa produk waralaba Mc Donals, yang memiliki rasa dan standar pelayanan sama di tiap gerainya karena sudah memiliki standar baku.

Lantas apakah bisnis waralaba bisa merugi? “Tentu saja bisa,” tegas Utomo Nyoto. Sebagaimana bisnis lain, waralaba pun berpotensi mendalami kerugian. Selain itu masih ada risiko lain yang perlu diwaspadai yaitu penipuan berkedok waralaba. Itu sebabnya, calon pembeli perlu banyak bertanya untuk mendapatkan penjelasan sedetail mungkin dari pemilik waralaba.

Utomo Nyoto juga menjelaskan bahwa bisnis penjual waralaba tidaklah harus selalu bermodal besar. Dengan modal yang kecil dan usaha yang sama, beberapa pengusaha dapat mendirikan sebuah merek yang kemudian dijual sebagai usaha waralaba. Laundry Zone adalah satu contohnya. Pada mulanya adalah beberapa individu yang bergerak dalam usaha jasa cuci kiloan dengan merek sendiri-sendiri. Mereka lalu bergabung untuk mendirikan merek baru yakni Laundry Zone, yang selanjutnya dijual sebagai bisnis waralaba.

Selain penjual dan pembeli, masih ada peluang bisnis di bidang waralaba yaitu sebagai pemasok. Contohnya adalah salah seorang jemaat di gki Diponegoro yang menjadi pemasok  pada waralaba hoka-hoka bento. Dengan menjadi supplier pada produk waralaba, tentunya pendapatan akan berlipat ganda karena semua gerai diharuskan mengambil dari supplier yang telah direkomendasikan oleh pihak franchisor. (Tri Hajar)

SUMBER : http://www.gki-magz.com/2013/01/peluang-bisnis-waralaba.html

Bisnis Laundry Kiloan Semakin Berkibar

Tawaran waralaba atau kemitraan usaha laundry tetap marak. Maklum, peminat jasa binatu semakin banyak. Alhasil, jaringan waralaba dan dan kemitraan laundry semakin meluas saja. Ambil satu contoh, Simply Fresh Laundry. Tahun 2008 lalu jumlah gerainya baru 27 gerai, dan kini sudah berbiak lebih dari lima kali lipat menjadi 142 gerai, yang tersebar di 50 kota di Indonesia

Ketua Umum Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Itta Supit Ginting menilai, bisnis laundry kian marak karena gaya hidup masyarakat yang ingin serba praktis. "Bahkan, saat ini, bisnis laundry tidak hanya semarak di kota-kota besar saja," katanya. Masyarakat di daerah-daerah pun memiliki kebutuhan akan jasa binatu pakaian ini. Itta menilai, prospek bisnis laundry untuk segmen menengah atas dan bawah akan cerah. Apa lagi laundry dengan sistem kiloan.

Pemicu menjamurnya bisnis laundry kiloan adalah tarif yang terjangkau pelanggan. Meski menyasar pasar kelas menengah-bawah, pendapatan yang dipetik pemain dari sistem ini cukup bagus. Contohnya, Agung Nugroho. Dalam sebulan, pemilik Simply Fresh Laundry ini bisa mengantongi omzet Rp 25 juta hingga Rp 30 juta dari 15 gerai laundry yang dikelolanya. "Marginnya 50%," imbuh dia

Penghasilan sebesar itubaru dari gerai yang dikelola sendiri oleh Agung, belum termasuk pendapatan dari kemitraan yang dia tawarkan. Jimmy Hendrawan, pemilik kemitraan Laundry Zone, juga menikmati gurihnya bisnis laundry kiloan. Kini Laundry Zone memiliki 35 gerai. Sebanyak 10 gerai dikelola sendiri. Dengan tarif Rp 8.000-Rp 10.000 per kilogram (kg), Laundry Zone menerima order 100 kg per hari. Meski prospek bisnis inicerah, tapi persaingan akan meningkat seiring bertambahnya pemain. Agar mampu bersaing, kuncinya adalah meningkatkan pelayanan dan kualitas jasa laundry. 

SUMBER : http://ukmindonesiasukses.blogspot.com/2010/06/bisnis-laundry-kiloan-semakin-berkibar.html

Bisnis Laundry Zone Cukup Bermodal Rp 100 Juta

Rabu, 12 Januari 2011 22:11 WIB
Bisnis Laundry Zone Cukup Bermodal Rp 100 Juta
FOTO TRIBUNJOGJA/MARIO EKA DANARDONO
Bisnis waralaba Laundry Zone ditawarkan Rp 100 juta, dengan prediksi balik modal selama dua tahun.
Laporan: Mario Eka Danardono
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Jimmy Hendrawan menawarkan bisnis waralaba Laundry Zone Rp 100 juta, dengan prediksi balik modal dua tahun.“Ada juga lokasi yang hanya butuh 10 bulan untuk balik modal," kata pemilik merek Laundy Zone itu, Rabu (12/1/2011).Ia mengatakan sudah menekuni bisnis franchise Laundry Zone sejak tahun 2007. Merek Laundry Zone adalah hasil merger dari tiga laundry yang bersifat individu."Atas saran Utomo Nyoto (seorang kopnsultan franchise), saya dan dua teman saya bergabung membangun merek bersama-sama," ujar Jimmy.Laundry Zone kini memiliki 42 gerai di empat pulau besar Indonesia, dan sebanyak 20 gerai ada di Yogyakarta.Setiap gerai mampu melayani 150 kilogram cucian per hari. Dan biaya jasanya Rp 3.500 per kilogram. “Tahun 2010 ini kita berhasil membuka 14 gerai Laundy Zone,” katanya.Menurut Jimmy, selama gaya hidup sibuk masyarakat tidak berubah, maka bisnis laundry akan tetap berjalan. Ia yakin kalau keluarga yang sibuk tidak mungkin menghabiskan libur mingguannya hanya untuk mencuci pakaian. "Laundry Zone tidak pernah ada yang rugi. Tapi kalau soal laba relatif," tambah Jimmy.

SUMBER : http://jogja.tribunnews.com/2011/01/12/bisnis-laundry-zone-cukup-bermodal-rp-100-juta/